Mengawali Paket II kegiatan pengabdian kepada masyarakat, pada tanggal 2 September 2021 Pastor Hermas Asumbi, S.S., S.S.L mengajak kita untuk merefleksikan tema bulan Kitab Suci Nasional tahun 2021: Yesus teman seperjalanan. Tema ini menyentak pemikiran di tengah wabah covid 19 yang memporak porandakan banyak hal. Tidak hanya secara sosial dan ekonomi, tetapi juga secara iman orang bisa bertanya dimanakah peranan Allah di sini.

BKSN mengajak kita memandang Yesus sebagai sahabat seperjalanan. Berkaitan dengan tema ini, kita tentu bisa bertanya: Apakah arti seorang sahabat? Siapa yang biasanya saya sebut sahabat? Bagaimana saya bisa jadi sahabat? Apa yang mesti saya lakukan untuk menjaga persahabatan? 

Persahabatan bukanlah suatu hal yang sifatnya manusiawi saja, ia juga bersifat rohani atau lebih tepat ILAHI. Dengan kata lain, persahabatan adalah keutamaan yang juga bersifat ilahi, bukan sekedar manusiawi saja. Bersahabat (ternyata) adalah tindakan dan kehendak dari Allah juga.

Sahabat adalah teman sehati, seperasaan dan sepenanggungan baik saat senang maupun susah. Ia ikut senang saat kita gembira dan sukses; di saat susah, ia pun ikut sedih, menangis, dan menopang. seperti kata st. Paulus: “Bersukacitalah dengan orang yang bersuka cita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Rm.12:15)

Persahabatan ada dalam  KEHIDUPAN BERSAMA, KEHIDUPAN SEHARI-HARI. Seseorang sulit mendapat ataupun menjadi sahabat bila ia memutus relasi dengan orang lain; atau sederhananya, bila ia lebih sibuk dengan dirinya sendiri. Panggung ini tidak dibatasi oleh waktu: sahabat sejati hadir saat senang maupun susah, ia tidak mengenal ‘musim’.  dalamnya makna kehadiran seorang sahabat terasa di waktu susah, krisis dan air mata.

Kata sahabat sesuai kata aslinya dekat dengan hakikatnya, yaitu kasih. Pst. Hermas mengangkat radikalitas kata sahabat ini dengan membandingkan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Di perjanjian Lama hanya dua orang yang disebut Sahabat Allah: yaitu Abraham dan Musa. Dalam Perjanjian Baru, Yesus menyebut murid-muridNya semua sebagai sahabat, bahkan semua orang yang percaya. Dengan demikian undangan menjadi sahabat semakin luas. Allah mengangkat martabat manusia dan mengundangnya untuk menjadi sahabat. Secara radikal, Yesus melampaui frame amat terbatas ini. Ia menyebut mereka yang percaya kepadanya sebagai SAHABAT.

Kata sahabat baik dalam PL maupun PB sebenarnya adalah memiliki makna YANG KUKASIHI atau YANG TERKASIH. Dalam Yesus sahabat malah diradikalisasi lagi, karena perbuatannya bahkan sampai bisa menyerahkan nyawa .

Dalam bulan Kitab Suci ada 4 tema yang hendak didalami, yaitu 1) Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Putus Asa 2)  Yesus, Sahabat bagi Mereka yang 3) Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Menderita 4) Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Bertobat.

Peserta webinar kali ini mencapai 230 orang, berasal dari banyak tempat di Indonesia, baik dari paroki-paroki di Keuskupan Manado, maupun tamu-tamu dari Keuskupan-keuskupan lain. Bahkan ada satu peserta dari Afrika Selatan ikut bergabung: Sr. Jeanne Futwembun PBHK. Selamat memasuki Bulan Kitab Suci Nasional.