You are currently viewing Sepuluh Imam Baru Rayakan Misa Pertama di STF Seminari Pineleng: “Imamat Bukan Soal Status, Melainkan Cara Hidup Kristus”

Sepuluh Imam Baru Rayakan Misa Pertama di STF Seminari Pineleng: “Imamat Bukan Soal Status, Melainkan Cara Hidup Kristus”

PINELENG – Suasana penuh syukur dan sukacita menyelimuti Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng (STFSP) pada Kamis (30/04/2026). Bertempat di Aula STFSP, segenap civitas academica dan umat yang hadir mengikuti Perayaan Ekaristi Misa Pertama dari 10 Imam baru yang belum lama ini menerima tahbisan suci.

Perayaan Ekaristi yang dimulai tepat pada pukul 11.00 WITA ini dipimpin langsung oleh salah satu imam baru, yakni RP. Yofalandus Lintong Taa, MSC, yang bertindak sebagai selebran utama.

Sepuluh imam baru yang merayakan Misa Pertama dan membagikan berkat sulung mereka di almamater tercinta ini adalah:

  • RD. Frederik Leonardo Ze, Pr

  • RD. Marcelino Ronaldo, Pr

  • RD. Michael Mefri Kewo, Pr

  • RD. Jecklin Carol Mononimbar, Pr

  • RD. Beato Dionisius Pasalin, Pr

  • RD. Wandelinus Gleko, Pr

  • RD. Christiano Mandagi, Pr

  • RP. Jenner Bernardus Senduk, MSC

  • RP. Yofalandus Lintong Taa, MSC

  • RP. Yohanes Jeng, MSC

Momen yang penuh rahmat ini semakin mendalam lewat homili (khotbah) yang dibawakan oleh RD. Michael Mefri Kewo, Pr. Dalam refleksinya, RD. Michael mengajak para imam baru beserta seluruh umat dan calon imam yang hadir untuk merenungkan kembali hakikat sejati dari panggilan imamat.

Ia dengan tegas mengingatkan bahwa tahbisan bukanlah sebuah pencapaian duniawi. “Kita harus menyadari bahwa menjadi imam bukanlah tentang sebuah status. Imamat adalah tentang menyadari dan menghidupi cara hidup Kristus itu sendiri di tengah dunia,” tegas RD. Michael dalam homilinya.

Pesan tersebut menjadi pengingat yang kuat, khususnya bagi para frater di Seminari Pineleng yang sedang dalam masa pembinaan, bahwa jalan panggilan adalah jalan pelayanan dan penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah, sama seperti Kristus yang datang untuk melayani, bukan dilayani.

Misa yang berlangsung khidmat di Aula STFSP ini ditutup dengan berkat penutup dari kesepuluh imam baru. Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah bersama para dosen, staf, dan para mahasiswa magister sebagai wujud syukur atas bertambahnya pekerja-pekerja di ladang Tuhan. Kesepuluh imam baru ini diharapkan dapat membawa semangat gembala yang baik ke tempat perutusan mereka masing-masing.

Tinggalkan Balasan