• call Us: (+62) 431 835790

Hari Refleksi STFSP

Hari Refleksi STFSP

Hari Refleksi STFSP

Pineleng, 23 Nopember 2019. Dalam rangka menyongsong 50 tahun STFSP yang akan diselenggarakan tahun 2020, STFSP menggelar sebuah hari studi bagi seluruh sivitas akademika STFSP. Hari refleksi ini menghadirkan dua pembicara utama yaitu Prof. Dr. Johanis Ohoitimur dan Amrosius Wuritimur, S.S., Lic.Th. Hadir juga dalam kesempatan ini Mgr. Benediktus Rolly Untu, MSC, Uskup Keuskupan Manado. Hari Refleksi adalah satu titik awal dengan tujuan untuk membangun konsolidasi bagi seluruh warga STFSP, untuk menyadari identitas dan cita-cita bersama.

Prof. Dr. Johanis Ohotimur mengajak para peserta untuk melihat identitas yang diwariskan dari sejarah pendirian Seminari Pineleng. Kendati didirikan di Keuskupan Manado, sejak semula Seminari Pineleng tidak hanya ditujukan untuk menjadi seminari regional, melainkan didirikan untuk masa depan Gereja universal. Lulusan Seminari Pineleng mempunyai kekhasan menjadi Pastor Bonus, yang rajin mengunjungi keluarga, setia melayani kaum miskin dan mendampingi kelompok-kelompok di paroki. Pastor sedemikian kuat dalam personal aproach dalam pastoralnya.

Sesudah itu Pastor Yong, demikian panggilan akrab beliau, mengajak kita melihat motto STFSP Fides, veritas, ministerium. Motto ini perlu didukung dengan tradisi pembinaan spritualitas yang kuat. Di STFSP perlu dibangun tradisi spiritualitas yang bisa berperan sebagai katalisator penghayatan kebenaran rasional dan ajaran iman. Kita perlu pula memperdalam dan memberi penjelasan terhadap nilai-nilai veritas, fides dan ministerium itu, agar bisa menjadi watak khas STFSP. Penjelasan itu mencakup juga penjabarannya secara konkrit dalam tingkah laku.

Mgr. Benediktus menambahkan perenungan dengan menempatkan dalam konteks renstra keuskupan Manado. Beberapa kiranya dapat diperhatikan dalam meningkatkan STFSP: Bagaimana STFSP dapat mendukung Gereja menjaga Persekutuan dan kepemimpinan yang melayani, bagaimana  pengajaran iman dan katekese (menghindari kegiatan massal dan kolosal), keterlibatan umat beriman, pengadaan tenaga katekis dan penekanan yang lain-lain.

Akhirnya pembicara ketiga, Pst. Amrosius Wuritimur, mengajak kita menelusuri sejarah lagi guna menemukan harapan-harapan Gereja setempat terhadap STFSP. Amat menarik diangkat motto uskup-uskup Manado di masa lampau dan bagaimana STFSP sebagai jantung keuskupan bisa mendukung motto tersebut yang merupakan visi dari setiap uskup. Pastor Amri berharap agar bisa terlibat dalam reksa pastoral di keuskupan Amboina dan Manado. Untuk itu diperlukan penyesuaian-penyesuaian yang produktif. Perlu penguatan kelembagaan: SDM, sarana dan prasarana.  Perlu juga pembumian ilmu untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Filsafat dan teologi sering dianggap abstrak, kurang membumi. STFSP perlu memastikan kualitas STFSP mulai dari penerimaan calon mahasiswanya sampai dengan penjaminan mutu lulusannya.

Refleksi ini sungguh-sungguh dirasakan berguna bagi pengembangan STFSP selanjutnya. Ketua STFSP sendiri berjanji untuk menindaklanjuti secara serius. Hari Refleksi ini akan ditindaklanjuti dalam semester berikut.

  • Prev Post
  • Next Post

LeaveComment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *