Menu Tutup

Tahbisan Romo Martin dan Romo Reza

Dua lagi putra terbaik lulusan STF Seminari Pineleng ditahbiskan imam. Mereka adalah  Martinus Rikiwi Setiaji, MSC dan  Christian Reza, MSC yang ditahbiskan di Paroki St. Yosef Mejasem Tegal oleh Mgr. Christophorus Tri Harsono, Uskup Keuskupan Purwokerto pada tanggal 15 Juni 2022.

Martinus Rikiwi Setiaji adalah putra dari Wonosobo, Keuskupan Purwokerto sedangkan Christian dan Reza berasal dari Paroki Kristoforus, Grogol, Jakarta. Setelah menjalankan tahun diaconal di Maluku (Reza) dan Kalimantan Timur (Martin), mereka mendapat rahmat tahbisan di Gereja Paroki Mejasem. Tahbisan masih dilaksanakan dengan protokol kesehatan, apalagi Gereja Mejasem tidak besar. Meskipun demikian tahbisan berlangsung amat khusuk. Hadir para imam MSC di Jawa Tengah dan imam-imam dari Tarekat lain.

Bapa Uskup Mgr. Harsono memulai homilinya dengan menyentil aneka ragam profesi berubah-ubah, kadang-kadang dibutuhkan dan ditinggalkan. Tetapi ada satu pekerjaan yang selalu dibutuhkan, yaitu pekerjaan imam. Sayangnya sedikit yang masuk saja yang masuk Fakultas Teologi dan Filsafat.

Sebagai pesan Bapa Uskup menekankan agar kita menghayati Imam sebagai cita-cita terakhir. Maksudnya tahbisan adalah akhir dari cita-cita dan kerinduan kita. Di situlah cita-cita tuntas, selesai karena sudah tertinggi, tinggal kita merelasikan rahmat yang diberikan. Di situ kita selesai dengan diri kita sendiri dan tidak ingin yang lain lagi. Setelah tahbisan imam jangan ada pilihan. Kalau masih ada yang lain itu aneh.

Bapa Uskup menyinggung ini karena ada yang belum menghayati luhurnya imamat. Menjadi Uskup, provincial itu pemilihan, yang namanya professor penunjukan, menjadi pastor paroki itu kepantasan. Demikian pula menjadi tokoh populer, menjadi suci adalah pilihan dari luar, bukan pilihan sendiri. Menjadi imam perlu selesai dengan dirinya, tidak mencari kedudukan lagi yang lain-lain. Keinginan seperti inilah yang seringkali menjadi pembuat masalah.

Pesan Bapa Uskup: “Bukan untuk mengejar tingkatan-tingkatan, apalagi popularitas dan kekayaan. Buatlah imam menjadi cita-cita terakhir, sebaik-baiknya. Inilah kekhasan Gereja: semakin tinggi semakin menjadi pelayan. Hanya satu guru, satu Tuhan yaitu Yesus Kristus. Tugas kita melayani, bukan untuk dihormati dan dilayani. Bukan kedudukan, tetapi fungsinya, substansinya. Bagaikan lagu yang penting bukan larisnya, tetapi harmoni dan isi pesannya. Begitulah Martin dan Reza, dengan tahbisan, diangkat, dipilih khusus. Jadilah kebanggaan MSC, keuskupan dan Gereja Katolik, dan kebanggaan Yesus Kristus yang mengutus kita semua.”

Hadir dalam tahbisan juga orang tua kedua calon. Romo Martin mewakili yang tertahbis menyadari bahwa sebagai imam mereka telah membiarkan diri ditikam oleh berbagai pengalaman masa lalu, tetapi terutama ditikam oleh kasih Allah, doa-doa orang, ditikam oleh pengalaman kasih. Ditikam oleh Rohnya sendiri yang mengantar pada kesadaran bahwa Panggilan merupakan anugerah yang harus dijaga, agar kasihNya semakin dikenal dimana-mana. “Kami berdua sadar, bahwa panggilan ini bukan milik kami sendiri, banyak orang akan menemani dan mendukung panggilan ini. Terima kasih.”

Setelah ditabiskan mereka mendapatkan tugas pertama sebagai Imam Baru: Romo Martin akan berkerja di wilayah Komunitas daerah Sulawesi Kalimantan Timur, dan Romo Reza akan bekerja di Wilayah Komunitas Jawa Tengah Kalimantan Selatan.

Selamat bahagia. Selamat mengemban anugerah imamat.

Galeri tahbisan – Diambil dari Youtube Gereja Katolik St. Yosef Mejasem

 

Posted in Berita STFSP

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.