“Papi Alo” Masuk Pensiun

Papi Alo itu sebutan akrab mahasiswa kepada Pst. Drs. Aloysius Lerebulan, Lic.Th. Pastor Alo sendiri tidak merasa risih dengan sapaan itu, karena memang begitulah ia berelasi dengan mahasiswa, sebagai bapa dan pendamping para mahasiswa. Kadang-kadang suaranya tegas bila menuntut sesuatu dari mereka, tetapi semuanya itu disertai dengan kelembutan hati yang kuat. Pernah ada mahasiswa yang kesulitan membayar uang kos, dan sudah memutuskan diri untuk mundur saja, karena kesulitan yang dialami dalam keluarganya. Dengan jeli Pastor Alo mengusahakan bantuan. Di waktu lain Pastor Alo melihat ada beberapa mahasiswa yang kelihatan lelah dan tak bertenaga. Ternyata mereka sementara kelaparan karena belum makan sejak pagi. Pastor Alo pun tak segan mengajak mereka untuk makan di Biara MSC.

Pastor kelahiran Ilngei, Tanimbar 19 Juni 1950 ini pernah menjadi Ketua Sekolah Tinggi Akuntasi di Ambon, sebelum akhirnya diutus untuk berkarya di STFSP pada tahun 1992. Beberapa tahun mengajar di STFSP, beliau diutus tarekatnya untuk belajar ilmu Teologi Moral di Universitas Alfonsiana di Roma. Beliau lulus pada 20 Juni 1996 dengan menyandang Licentiat di Teologi Moral.

Pastor Prof. Dr. Johanis Ohoitimur melihat Pastor Alo sebagai dosen yang melakukan segala hal dengan sukacita. Sukacita itu menular kepada mahasiswa dan semua karyawan yang bekerja bersama dengan dia. Kewibawaannya dan keakrabannya amat dirasakan. Dia juga optimis dalam segala hal serta melaksanakan semuanya dengan rasa bahagia. Sementara Pastor Dr. Albertus Sujoko melihat seluruh sejarah kehadiran Pst. Alo sebagai penyelenggaraan Tuhan. Tuhanlah yang menyelenggarakan dengan baik. Ia mendoakan Pastor Alo panjang umur dan tetap sehat.

Mengomentari momen pensiunnya sendiri Pastor Alo merasa senang. Apa yang terjadi sesuai dengan identitas panggilannya secara pribadi. Ia berharap STFSP terus berkembang. “STFSP tidak boleh kalah dari perguruan tinggi lain. STFSP harus menjadi Perguruan Tinggi yang terpercaya, yaitu dengan menunjukkan bahwa ilmu filsafat dan teologi sangat dibutuhkan di masyarakat. STFSP juga harus bisa ‘bersaing’ dengan seminari-seminari lain dalam memberikan sumbangan bagi Gereja di Indonesia.” Ia berpesan pula agar mahasiswa terus semangat dalam belajar, semangat dalam diskusi. Meskipun sudah pensiun, ia akan tetap siap membantu kapan pun dibutuhkan. “STFSP, namamu agunglah.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *