• call Us: (+62) 431 835790

Dialog Kebangsaan bersama Rm. Yoseph Maria Bintoro, Pr

Rm Bintoro Pr

Dialog Kebangsaan bersama Rm. Yoseph Maria Bintoro, Pr

Rm. Letkol (Sus.) Yoseph Maria Bintoro Pr adalah Wakil Uskup di lingkungan TNI-Polri. Di sela-sela kunjungan kerjanya mendampingi Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, di Manado, Rm. Bintoro, begitu sapaan akrabnya, menyempatkan diri berwawan hati dengan para mahasiswa-mahsiswi STFSP dan beberapa tamu undangan dari Komisi Kerawam Keuskupan Manado, ISKA dan Kaum Bapa Katolik.

Romo Bintoro bersharing tentang panggilannya mengabdi di lingkungan TNI sebagai anggota TNI aktif dan sekaligus romo projo Keuskupan Agung Jakarta. Bukan sebagai sesuatu untuk dibanggakan, tetapi lebih terdorong karena ketaatan, begitu tegasnya merendah Dari pengalaman diutus di lingkungan yang tidak biasa ini, ia menemukan sebuah keyakinan bahwa mencintai tanah air adalah sebuah jalan yang sungguh-sungguh konkrit untuk menhidupi nafas menggereja. Ia menemukan dasar teologis pendapatnya ini di perjalanan Abraham, yang mendapatkan tiga janji dari Tuhan untuk meninggalkan tanah airnya. Menariknya, dia dijanjikan tanah air dan keturunan yang banyak, sebelum akhirnya menjadi bapa segenap orang beriman. Jadi mencintai tanah air dan bangsa adalah jalan dalam proses  untuk mendapatkan janji-janji lainnya. Tidak heran, begitu romo Bintoro, perintah Allah keempat menekankan pentingnya menghormati ibu dan bapa kita. Bagi romo ibu bapak bukan hanya berarti ibu bapa sanguinis, tetapi juga ibu bapa dalam arti locus, tempat kita lahir, tempat kita hidup. Jadi mencintai tanah air masuk di dalam kewajiban utama orang kristiani.

Dalam bagian berikutnya Romo mengurai keindahan budaya Indonesia, dimana kita bisa turut berperan. Budaya-budaya bangsa adalah soko guru bangsa yang sangat penting. Itulah tempat lahir Pancasila dasar dan pemersatu bangsa. Nilai kegotong-royongan, nilai kemanusiaan yang kita miliki adalah sumbangan sangat besar untuk menghidupi kebangsaan.

Di situlah romo menerangkan pentingnya spiritualitas ekaristi: berani ajur ajer, hancur dan melebur, mencair serta hadir dalam masyarakat.  Kepada seluruh hadirin romo juga menambahkan perlunya mempelajari historis antropologis bangsa, menghidupi spiritualitas mistik, memberi makan rohani kita dengan bacaan Kitab Suci dan melaksanakan teologi kontekstual.

Acara berlangsung hingga pukul 22 malam. Terima kasih Romo Bintoro.

  • Prev Post
  • Next Post

LeaveComment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *